Setiap bahasa menawarkan dua cara dasar untuk mengungkapkan sebuah peristiwa: satu yang menjaga verba tetap di pusat kalimat, dan satu lagi yang mengubah peristiwa itu sendiri menjadi nomina abstrak yang diperlakukan sebagai sebuah benda tersendiri. Dalam bahasa Jerman keduanya disebut Verbalstil dan Nominalstil, dan berpindah dengan luwes di antara keduanya adalah salah satu penanda paling jelas dari penguasaan C1, karena pilihan itu bukan soal kebenaran tata bahasa melainkan kecocokan gaya — bentuk mana yang cocok untuk konteks mana.
Verbalstil membangun kalimat di sekitar verba finit, menghubungkan klausa utama dan klausa subordinat dengan konektor seperti wenn, weil, atau obwohl, seperti dalam Wenn die Preise steigen, sinkt der Konsum. Bentuk ini paling alami dalam tuturan dan dialog sehari-hari, karena menjaga urutan waktu dan sebab-akibat peristiwa tetap eksplisit dan mudah diikuti secara langsung.
Nominalstil menggantikan seluruh klausa subordinat dengan satu frasa nomina yang diperkenalkan oleh preposisi yang sesuai (bei, durch, nach, trotz, wegen, vor...), sehingga kalimat di atas menjadi Bei Preisanstieg sinkt der Konsum. Verba steigen menghilang sepenuhnya, diubah menjadi nomina abstrak der Anstieg (sebuah proses yang disebut nominalisasi), dan seluruh pemikiran dipadatkan ke dalam satu klausa yang lebih padat. Register ini mendominasi bahasa Jerman jurnalistik, ilmiah, dan administratif, karena mengemas lebih banyak informasi dalam ruang yang lebih sedikit dan memberi teks nada objektif dan berjarak yang diharapkan dari laporan dan studi.
Secara mekanis, konversi ini mengikuti tiga langkah: pertama identifikasi verba yang akan dinominalisasi (sering dengan menambahkan -ung atau mengubah kata dasar, seperti dalam steigen → der Anstieg); kedua pilih preposisi yang mencerminkan hubungan logis konektor aslinya (wenn/als → bei, weil/da → wegen, obwohl → trotz, nachdem → nach, bevor → vor); ketiga letakkan nomina yang dihasilkan dalam kasus yang dituntut preposisi tersebut, datif atau genitif.
Kesalahan paling umum di kalangan pelajar tingkat lanjut adalah menggunakan Nominalstil secara berlebihan, mengira ia secara inheren lebih canggih dalam setiap konteks, hingga satu paragraf berubah menjadi rangkaian nomina majemuk berat yang bahkan sulit diuraikan oleh pembaca asli — Die Verbesserung der Qualität durch Optimierung der Prozesse alih-alih yang jauh lebih jelas Wir verbessern die Qualität, indem wir die Prozesse optimieren. Tulisan akademis yang kuat memadukan keduanya secara sengaja: Nominalstil untuk memadatkan gagasan sekunder, dan kembali ke Verbalstil setiap kali teks membutuhkan kejelasan langsung.