Kalimat kondisional menghubungkan suatu peristiwa hipotetis (syarat) dengan konsekuensinya — sebuah struktur yang dimiliki setiap bahasa, tetapi bahasa Jerman menerapkan pembedaan tiga tingkat yang ketat dalam derajat kenyataan, yang oleh banyak bahasa hanya diungkapkan secara longgar, melalui konteks atau satu pilihan kata. Memahami pembagian tiga tingkat ini adalah inti dari pelajaran ini.
Tingkat pertama adalah syarat nyata (reale Bedingung): sesuatu yang benar-benar mungkin terjadi di masa kini atau depan, dinyatakan dengan Indikativ biasa di kedua klausa, seperti dalam Wenn es regnet, bleibe ich zu Hause — hujan adalah kemungkinan nyata di sini. Tingkat kedua adalah syarat tidak nyata di masa kini: sebuah asumsi yang bertentangan dengan kenyataan saat ini, atau harapan yang kecil kemungkinannya terwujud, yang membutuhkan Konjunktiv II dalam klausa syarat dan biasanya würde ditambah infinitif dalam klausa hasil, seperti dalam Wenn ich reich wäre, würde ich helfen — "seandainya aku kaya," bukan kemungkinan yang benar-benar terbuka. Tingkat ketiga adalah syarat tidak nyata di masa lampau: penyesalan, atau membayangkan apa yang bisa saja terjadi tetapi tidak, dibangun dengan hätte atau wäre ditambah Partizip II di kedua bagian, seperti dalam Wenn ich Zeit gehabt hätte, wäre ich gekommen — sebuah asumsi tentang peristiwa yang sudah berlalu dan tidak bisa lagi diubah.
Secara struktural, ketika sebuah kalimat dibuka dengan wenn, kata kerja dalam klausa subordinat itu berpindah ke posisi paling akhir, diikuti koma lalu klausa utama, yang kata kerja terkonjugasinya muncul segera, tanpa subjek disebut lebih dulu — klausa wenn itu sendiri menempati posisi subjek sebagai satu unit gramatikal. wenn juga bisa dihilangkan sepenuhnya, digantikan dengan membalik kata kerja dan subjek dalam klausa syarat itu sendiri, seperti dalam Wäre ich du, würde ich es tun — gaya yang lebih sastrawi dan umum dalam tulisan tingkat tinggi serta jurnalisme.
Kesalahan paling sering adalah mengacaukan tingkat kedua dan ketiga: menggunakan würde ditambah infinitif untuk membicarakan peristiwa lampau yang sudah berlalu, padahal yang dibutuhkan justru hätte atau wäre ditambah Partizip II. Kesalahan umum kedua adalah lupa bahwa sein dan haben dalam syarat tidak nyata jauh lebih menyukai bentuk Konjunktiv II aslinya, wäre dan hätte, daripada würde sein atau würde haben, yang terdengar janggal dan tidak alami meskipun würde adalah bentuk baku untuk kebanyakan kata kerja lain.