Banyak bahasa memiliki ungkapan seperti "seolah-olah" atau "seakan-akan" untuk melukiskan perbandingan fiktif — sesuatu tampak, atau seseorang berperilaku, seolah-olah suatu hal itu benar, padahal kenyataannya sama sekali tidak benar. Inilah persisnya yang dinyatakan als ob dan als wenn dalam bahasa Jerman — dua konektor yang sepenuhnya sinonim, dengan als ob agak lebih umum dalam tulisan dan tuturan formal. Gagasan kunci yang harus dipahami lebih dulu adalah bahwa klausa-klausa ini selalu melukiskan kesan atau penampakan lahiriah, sementara kenyataan yang mendasarinya berbeda atau justru berkebalikan; Er tut, als ob er krank wäre berarti ia berpura-pura sakit padahal kenyataannya ia sama sekali tidak sakit.
Tata bahasa di balik struktur ini bersandar pada dua aturan yang saling terkait. Pertama, karena als ob dan als wenn memperkenalkan klausa subordinatif, verba terkonjugasi didorong ke akhir klausa itu, persis seperti dengan weil atau dass. Kedua, dan lebih penting lagi, verba harus dalam bentuk Konjunktiv II, jangan pernah indikatif biasa, karena modus inilah yang menandakan bahwa anggapan itu tidak nyata — tanpanya, kalimat kehilangan makna intinya yang membedakan penampakan dari kenyataan. Ketika kesan itu menyangkut masa kini, digunakan Konjunktiv II Präsens (wäre, hätte, atau bentuk modal lain); ketika kesan itu menyangkut sesuatu yang tampak sudah terjadi, digunakan Konjunktiv II Perfekt — hätte atau wäre plus Partizip II — seperti dalam Sie spricht, als ob sie ihn nie gekannt hätte.
Ada pula bentuk singkat yang sangat umum: ob atau wenn dapat dihilangkan, dengan hanya mempertahankan als, tetapi penghilangan ini memaksa perubahan urutan kata — verba terkonjugasi kembali langsung setelah als, di posisi kedua, seperti dalam klausa utama biasa: Er tut, als wäre er krank alih-alih Er tut, als ob er krank wäre. Maknanya identik; perbedaannya murni stilistis, antara versi yang lebih panjang dan formal dengan versi yang lebih singkat dan percakapan.
Kesalahan pembelajar yang paling sering adalah menggunakan indikatif biasa setelah als ob, mengiranya sebagai perbandingan deskriptif biasa — ini sepenuhnya menghapus makna yang dimaksud kalimat, karena tanpa Konjunktiv II tidak ada yang membedakannya dari perbandingan nyata. Kesalahan umum kedua adalah lupa membalik verba ketika memakai als singkat sendirian, menghasilkan Er tut, als er krank wäre alih-alih yang benar Er tut, als wäre er krank.