Pada pelajaran sebelumnya Anda telah mempelajari Konjunktiv II untuk hal-hal hipotetis pada masa kini atau masa depan, seperti "seandainya saya punya waktu, saya akan bepergian." Tetapi bagaimana jika Anda ingin membicarakan sesuatu yang tidak terjadi di masa lampau, dan Anda menyesalinya atau membayangkan apa yang akan terjadi seandainya hal itu terjadi? Di sinilah Konjunktiv II der Vergangenheit berperan — bentuk yang Anda gunakan untuk mengatakan "saya berharap saya belajar lebih giat" atau "seandainya Anda menelepon saya, saya akan membantu Anda."
Bentuk ini penting dalam kehidupan sehari-hari karena penutur bahasa Jerman terus-menerus menggunakannya untuk mengungkapkan penyesalan atas keputusan masa lampau atau peluang yang terlewat, atau untuk membayangkan hasil alternatif seandainya sesuatu di masa lampau berjalan berbeda. Bentuk ini memiliki struktur yang jelas berbeda dari hipotesis masa kini, jadi ada baiknya Anda memisahkan kedua bentuk itu dalam pikiran ketimbang menganggapnya bisa saling dipertukarkan.
Secara struktur, bentuk ini selalu terdiri dari dua bagian: kata kerja bantu hätte atau wäre, yang dikonjugasikan sesuai subjek, diikuti oleh Partizip II dari kata kerja utama di akhir kalimat. Pilihan antara hätte dan wäre mengikuti aturan yang persis sama dengan yang sudah Anda ketahui dari kala Perfekt: kata kerja yang membentuk Perfekt-nya dengan haben — sebagian besar kata kerja, terutama yang transitif — menggunakan hätte, sedangkan kata kerja gerak dan perubahan keadaan yang membentuk Perfekt-nya dengan sein, seperti gehen, kommen, fahren, dan werden, menggunakan wäre.
Satu poin penting yang perlu dihafal: Partizip II dalam bentuk ini tidak pernah berubah, bagaimana pun subjeknya berubah — seluruh konjugasi terjadi hanya pada hätte atau wäre. Misalnya, gelernt tetap gelernt baik Anda mengatakan ich hätte gelernt maupun wir hätten gelernt.
Dalam kalimat pengandaian yang dimulai dengan wenn, strukturnya menjadi sedikit lebih panjang karena baik anak kalimat maupun induk kalimat masing-masing memerlukan hätte atau wäre-nya sendiri, dan Partizip II muncul tepat sebelum kata kerja bantu di akhir anak kalimat: "Wenn ich mehr Zeit gehabt hätte, hätte ich geholfen."
Kesalahan umum adalah mencampuradukkan bentuk ini dengan bentuk masa kini yang lebih sederhana würde ditambah infinitif, sehingga menghasilkan sesuatu seperti "ich würde gelernt haben" alih-alih bentuk yang wajar "ich hätte gelernt." Ingatlah: berbicara tentang masa lampau yang tak nyata selalu memerlukan hätte atau wäre langsung dengan Partizip II, tidak pernah würde.